Pelangi di Piring, Galaksi di Gelas
Tahun 2016 adalah era di mana makanan harus Instagrammable sebelum akhirnya bisa dinikmati. Tren rainbow foods mewarnai media sosial dengan kehadiran rainbow cake yang dipotong sempurna, rainbow bagel yang viral dari New York, dan puncaknya, unicorn frappuccino yang seperti mimpi masa kecil. Tak lama setelahnya, galaxy foods hadir dengan pesona yang lebih gelap dan misterius. Donat, kue, dan minuman dengan gradien biru, ungu, dan hitam yang berkilauan seperti nebula menawarkan keindahan kosmik yang dalam di atas piring dan di dalam gelas.
Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam budaya kuliner. Makanan tak lagi sekadar soal cita rasa atau kenikmatan fisik, tapi juga tentang potensi visual dan nilai share-nya di media sosial. Pewarna makanan, glitter yang bisa dimakan, dan teknik dekorasi rumit menjadi senjata utama para koki dan barista. Kualitas sebuah hidangan seringkali dinilai dari jumlah likes dan komentar yang berhasil dikumpulkannya di Instagram, bukan semata-mata dari kepuasan lidah orang yang menyantapnya.
Es Kepal dan Salted Egg: Nostalgia yang viral
Sementara tren visual global merajalela, di Indonesia justru muncul dua kekuatan lokal yang meraih popularitas dengan cara yang berbeda namun sama-sama powerful. Es kepal Milo menggila berkat bentuknya yang padat dan sensasi "tenggelam" dalam lautan bubuk Milo yang memenuhi setiap jengkal permukaannya. Hidangan ini bukan sekadar minuman, melainkan perwujudan nostalgia masa kecil yang dibungkus dalam kemasan yang berlebihan, teatrikal, dan siap dibagikan di media sosial.
Di sisi lain, salted egg atau telur asin menjadi rasa primadona yang mendominasi pasar kuliner tanah air. Dari keripik kulit hingga seafood, segala hal dilapisi saus telur asin yang gurih, asin, dan creamy. Tren ini membuktikan suatu hal penting: meski tak serumit atau seinstagenic makanan warna-warni impor, cita rasa yang kuat, familiar, dan menggiurkan bisa menjadi modal viralitas yang tak kalah hebat. Salted egg menjadi bukti bahwa "rasa" masih punya tempat, asal dikemas dengan tepat untuk selera pasar.
Makanan sebagai Mata Uang Sosial
Di balik kemeriahan warna dan rasa ini, platform seperti Instagram telah secara fundamental mengubah relasi kita dengan makanan. Restoran, kafe, bahkan pedagang kaki lima berlomba menciptakan hidangan yang eye-catching dan unik, karena makanan telah berubah fungsi menjadi alat branding, ekspresi diri, dan mata uang sosial. Apa yang kamu makan dan bagikan menjadi bagian dari identitas digitalmu—apakah kamu orang yang aesthetict, nostalgic, atau adventurous.
Warisan 2016 terasa kuat hingga kini: kita telah terbiasa secara insting menilai makanan dari potensinya sebagai konten yang bagus sebelum mempertimbangkan rasa atau nutrisinya. Makanan telah resmi menjadi bahasa visual, sebuah kode yang kita gunakan untuk berkomunikasi dan menempatkan diri dalam hierarki sosial digital. Akibatnya, tanpa disadari, lidah kita pun perlahan belajar untuk "melihat" dan "membaca" terlebih dahulu, baru kemudian benar-benar merasakan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar